• Lorem ipsum
  • Dolor sit a met
the most complete music search engine

Setelah Politikus Sontoloyo, Jokowi Sebut Politik Genderuwo

Posted on April 20, 2018 by Doenx
80 out of 100 based on 737 user ratings
Setelah Politikus Sontoloyo, Jokowi Sebut Politik Genderuwo

TABLOIDBINTANG.COM - Presiden Jokowi menyindir aksi para politikus yang gemar menyebar propaganda menakutkan dengan menyebutnya sebagai politik genderuwo.

"Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran. Setelah takut yang kedua membuat ketidakpastian. Itu sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwo," ujar Jokowi, Jumat, 9 November 2018.

Dalam mitos Jawa, Genderuwo ejenis makhluk halus berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan menakutkan.

Jokowi mengatakan saat ini banyak politikus yang sering melontarkan pernyataan yang menakutkan, seperti genderuwo itu. Cara berpolitik semacam itu, katanya, bukanlah cara berpolitik yang beretika, karena masyarakat digiring ke arah ketidakpastian dan ketakutan sehingga terkesan kondisi Indonesia mencekam.

"Masyarakat ini senang-senang saja kok ditakut-takuti. Iya tidak? Masyarakat senang-senang kok diberi propaganda ketakutan. Berbahaya sekali," tutur Jokowi.

Jokowi mengingatkan kepada masyarakat untuk berpikir kritis dan pintar dalam menghadapi situasi semacam itu. Dia menekankan momen tahun politik hanya lima tahun sekali dan jangan sampai pesta demokrasi ini justru menimbulkan bibit-bibit perpecahan antar masyarakat.

Pernyataan Jokowi ini, kata Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Abdul Kadir Karding, sangat tepat menggambarkan situasi terkini. "Memang politik seharusnya menimbulkan kesenangan dan kegembiraan," ujar Karding saat dihubungi pada Jumat, 9 November 2018.

TEMPO.CO

Penulis TEMPO

Editor Suyanto Soemohardjo

YANG INI LEBIH HEBOH

loading...

KOMENTAR

Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.