• Lorem ipsum
  • Dolor sit a met
the most complete music search engine

Ini Penyebab Diet Ketat Menjadi Tidak Sehat, Dan Sebaiknya Tidak Dilakukan

Posted on February 23, 2018 by Akay
91 out of 100 based on 703 user ratings
Ini Penyebab Diet Ketat Menjadi Tidak Sehat, dan Sebaiknya Tidak Dilakukan

Ini Penyebab Diet Ketat Menjadi Tidak Sehat, dan Sebaiknya Tidak Dilakukan (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Dengan berbagai alasan, banyak orang kini melakukan diet. Beberapa bahkan tidak sekadar melakukan diet, melainkan diet ketat. Demi tujuan diet ketat, ada orang yang rela mengubah drastis kebiasaan hariannya, seperti berhenti makan nasi, ikut latihan fisik tiap hari, tidak makan malam sama sekali, dan masih banyak lagi. 

Berdasarkan jenis dietnya, beberapa yang cukup sering kita dengar sekarang ini antara lain diet mayo, diet keto, atau diet paleo. Diet mayo, menitikberatkan pada pembatasan asupan garam dan karbohidrat. Diet keto, berfokus pada konsumsi makanan tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Sedangkan diet paleo, menerapkan pola makan dari sumber yang alami, bukan olahan atau yang sudah diproses. Semuanya bertujuan untuk mengurangi jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh. Namun apakah sama berhasil pada setiap orang? 

Nyatanya tidak. Cukup banyak yang tidak berhasil menurunkan berat badan melalui sistem diet yang disebutkan di atas. 

(Depositphotos)

(Depositphotos)

“Diet itu sebenarnya sebuah komitmen jangka panjang. Kalau kita hanya menanamkan mindset pada diri kita bahwa diet itu cara agar berat badan kita bisa turun dalam waktu singkat, maka 90 persen hasilnya tidak akan permanen,” ujar Rachel Olsen, Nutrition Expert YOUVIT, melalui rilisnya kepada Aura. Ditambahkan Rachel, banyak orang juga yang akhirnya hanya merasa terbebani dengan diet yang dia lakukan. Otomatis, tubuh akan merasa tidak nyaman dan dalam waktu yang lumayan singkat dia akan menyerah dan tidak melanjutkan dietnya. 

"Lalu ada pula yang melakukan diet ekstrem dengan (nyaris) tidak makan apa - apa. Kalau seperti ini dietnya, sudah pasti tidak sehat dan membahayakan tubuh," terang Rachel Olsen. 

Lantas apa solusinya? Rachel Olsen menyarankan agar mereka yang diet tetap memperhatikan asupan nutrisi yang porsinya seimbang dan dibutuhkan tubuh. Program diet yang ada sebagian besar mengajak orang untuk mengurangi jenis nutrisi tertentu, contohnya karbohidrat. Padahal tubuh tiap harinya tetap membutuhkan karbohidrat. 

(Depositphotos)

(Depositphotos)

"Jadi jangan sampai saat diet kita tidak makan karbohidrat sama sekali. Kita tinggal menyesuaikan porsi seimbang makanan untuk sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, seperti konsep isi piringku yang direkomendasikan pemerintah," anjur Rachel. 

Jika kebutuhan nutrisi harian tubuh tidak terpenuhi dengan benar, risiko untuk terpapar bakteri atau kuman malah semakin tinggi dan membuat tubuh gampang sakit. "“Selain itu, perlu diingat kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi dari makanan berbeda-beda, jadi asupan tambahan dari multivitamin pastinya diperlukan juga. Supaya badan tetap fit,” tutupnya.

(wida / wida)